Andalan
Diposkan pada Edukasi

Sadar dan Fokus Saat ini

pov-3046269_960_720
https://pixabay.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Hidup ini hanya permainan dan senda gurau. Terlalu banyak hal yang melenakan kita sehingga melupakan apa yang sebenarnya terjadi. Salah satu pengaruhnya adalah media sosial.

Manusia sekarang lebih fokus pada dunia maya bukan dunia nyata. Merasa lebih hidup dalam dunia maya daripada dunia nyata. Namun ada positifnya, kita bisa berkomunikasi dan berteman dengan banyak orang yang tempatnya jauh tanpa berjumpa langsung. Akan tetapi pada akhirnya jadi masalah juga karena fokusnya pada teman yang jauh, biasanya teman yang dekat dan ada disekitar kita jadinya dicukin. Hal ini tergambarkan dalam sebuah slogan “Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Dampak jauh dari penggunaan media social adalah pencitraan tingkat tinggi, ikut-ikutan, hidup semakin tidak realistis, hedon, materialistic, sampai tolak ukur bahagian dan kesenangan hanya sebatas like dan komentar pujian. Sungguh ironis. Kesempurnaan manusia hanya ingin dinilai dari like saja atau yang lebih para kehebatan seseorang diukur dari seberapa banyak followersnya. Sungguh-sungguh ironis.

Bahkan sesuatu yang viral dalam media social, kebanyak bukanlah sesuatu yang mendidik atau sesuatu yang mengedukasi tetapi sesuatu yang aneh, diluar akal sehat yang hanya menarik dari sisi luar tapi esensinya tidak berbobot seperti viralnya lagu despacito yang isinya mengenai ungkapan seks.

Belum lagi konten-konten porno yang menyebar di media social yang merusak mental anak bangsa. Konten kekerasan yang tersebar bebas dan sikap fitnah, caci maki, kebencian yang sangat mudah didapatkan dalam media social. Padahal kita tahu bersama bahwa pengguna media social bukan hanya orang dewasa tapi anak-anak juga banyak yang menggunakan. Hal ini berdampak jauh pada kehilangan kewarasan dan akal sehat.

Biasanya kita dimana-mana buka hape, searching, chating, internetan, bahkan personal touch sangat jarang dilakukan sehingga banyak hal menjadi terancam punah seperti budaya dan bahasa yang saat ini betul-betul butuh dilestarikan.

Perlu kembali mereorientasi pola pikir bahwa kondisi saat ini dan disinilah kehidupan nyata. Kita harus maksimal dalam memanfaatkannya. Karena yang dikenang adalah mereka yang nyata dan betul-betul ada disekita kita. Jika tidak nyata namanya hantu hehe

Iklan
Andalan
Diposkan pada Edukasi

My Opinion

idea-1876658_960_720
https://www.pexels.com

Oleh: Ayu Suryaningrat

Sebuah tanggapan terhadap tulisan.

Penulis: Fiqram Iqra Pradana

Posted : www.qureta.com/20 Desember 2017

Judul Artikel : LGBT, Apa Masalahnya?

Dalam pandangan saya mengenai tulisan ini, penulis lebih banyak menyatakan pemahaman yang membentuk opini publik dalam menganalisis sebuah masalah. Bagaimana seseorang dapat se-netral mungkin dalam memandang sebuah permasalahan. Saya berpendapat jauh dari apa yang menjadi perdebatan masyarakat yang menyangkut-pautkan agama dan LGBT. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat sesuai dengan apa yang ada dalam tulisan ini. Hal pertama yang saya ingin komentari mengenai tulisan ini ialah yang dikutip sebagai berikut:

“Dalam teori yang dikemukakan oleh Daniel Kahneman, disebutkan bahwa sistem berpikir manusia terbagi menjadi dua, yang pertama adalah sistem berpikir satu. Cara berpikir ini bekerja secara refleks, cepat dan ceroboh karena dipengaruhi oleh kinerja amygdala–pusat pengaturan emosi–sehingga hasilnya cenderung dipengaruhi oleh emosional.

Bisa dikatakan, orang yang berpikir seperti ini masih dalam tahap pra konvensional seperti yang dijelaskan dalam teori moral Kohlberg. Artinya, ia merespons apa adanya berdasarkan aturan yang ada sehingga cenderung mengabaikan rasionalitas.

Sedangkan sistem berpikir dua bekerja lambat tapi berdasarkan analisis. Sistem berpikir ini dipengaruhi oleh korteks pusat pengaturan kognisi di otak. Bisa dikatakan bahwa orang yang berpikir seperti ini cerdas secara emosi. Artinya, mampu mengendalikan dirinya karena setiap hal yang ada, dianalisa dahulu lalu ia bertindak.

Nah, sistem berpikir inilah yang harus dibangun, yaitu sistem berpikir dua menurut Daniel Kahneman. Seseorang yang memiliki religiusitas yang tinggi belum tentu memiliki sistem berpikir seperti ini. Bahkan kebanyakan orang-orang yang memiliki religiusitas yang tinggi cenderung sangat kaku dalam beragama dan sangat reaktif terhadap perbedaan paham. Sehingga cenderung memudahkan timbulnya konflik dalam bersosial.(Fiqram:2017)

Dari pernyataan diatas penulis jelas-jelas ingin mengubah suatu pola pikir masyarakat agar lebih bijak lagi dalam menanggapi suatu hal.  “Nah, sistem berpikir inilah yang harus dibangun,” dan tulisan ini dapat dikategorikan sebagai tulisan persuasif . Dalam hal ini sah-sah saja seseorang berpendapat melalui argument-nya masing-masing, selama hal itu didukung oleh fakta-fakta yang ada.  Ketika sudut pandang penulis berbeda dengan sudut pandang pembaca bukan berarti salah seorang diantaranya dapat men-judge secara berlebihan. Mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut dapat menjadi tugas bersama ataupun tetap pada prinsip ,masing-masing.

Mengapa penulis mengumukakan suatu pendapat dalam tulisannya? Hal tersebut dapat kita analasis melalui psikologis ataupun sosiologis seorang penulis. Dan dalam tulisan ini saya akan membahasa sosiologis penulis dalam mengumukakan pendapatnya. Wellek dan Warren berpendapat bahwa sosiologi pengarang berhubungan dengan profesi pengarang. Masalah yang dikaji antara lain dasar ekonomi produksi, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karyanya. Seperti yang penulis kemukakan dalam tulisannya mengnai latar belakang socialnya sebagai penulis:

“Sebagai seorang mahasiswa, apalagi bergelut dengan kajian dan pembahasan agama setiap harinya, tentu akan lebih mudah menelaah dan menafsirkan ayat di atas sebagai suatu filosofi dalam menjalankan kehidupan. Tapi nyatanya, kondisi mahasiswa sekarang malah terjebak dengan hedonisme dan pragmatisme. Mungkin tertanam di dalam otaknya sifat instan dan menghalalkan segala cara. Kondisi ini berimplikasi terhadap cara berpikir.” (Fiqram:2017)

Sosiologis penulis dikemukakan secara gambling oleh penulis sendiri bahwa, dan di ulang lagi dalam paragraph yang berbeda:

“Sebagai seorang mahasiswa, apalagi di Fakultas Ushuluddin yang notabene mengkaji masalah agama sebagai lahapan sehari-hari, sudah sepantasnya tidak tenggelam dalam pembahasan LGBT. Ia seharusnya tidak ikut dalam masalah, tetapi mencari akar permasalahan dan memikirkannya secara bijak.

Tidak etis jika kita sebagai mahasiswa malah ikut-ikutan menyalahkan dan memandang rendah pelaku LGBT. Jika semua orang memandang LGBT sebagai hal yang negatif, itu malah memperkeruh persoalan. Mahasiswa seharusnya tidak seperti itu.” (Fiqram:2017)

Nah, dalam lingkungan penulis diatas dapat tergambar secara jelas bahwa ia merupakan seorang  mahasiswa Fakultas Ushuluddin yang tidak seharusnya ia ikut dalam masalah (LGBT) tersebut melainkan lebih kepada mencari akar permasalahan dan membuat kesimpulan sebijak mungkin. Dimana yang saya ketahui sejauh ini mengenai Ushuluddin ialah tidak jauh dari keilmuan filsafat. Yang saya sendiri  mendapat pembelajaran tentang pemahaman tersebut mengenai kebijakan yang harus kita bentuk dalam memandang sebuah masalah. Saya faham apa yang ingin diungkapkan oleh penulis. Tentu saya menghargai pendapatnya walaupun sangat bertentangan dengan prinsip saya sendiri mengenai beberapa hal yang ada dalam tulisannya.

Mengenai hal ini, ada beberapa hal yang ingin saya tanggapi diluar prinsip beragama.  Pertama, orang yang membaca tulisan anda tidak semua dari kalangan mahasiswa ataupun akademisi lainnya. Yang saya takutkan adalah ketika pembaca langsung menyerap apa yang ada dalam tulisan tersebut tanpa menyaring baik buruknya. Jika pembaca membenarkan tulisan tersebut maka akan ada pemahaman bahwa LGBT itu bukan masalah besar dan tidak usah dibesar-besarkan.

“Anggap LGBT sebagai hal positif yang tidak menimbulkan masalah. Hal ini akan mempengaruhi cara berpikir kita. Saya khususkan cara ini untuk mereka yang terlanjur menganggap LGBT sebagai hal yang negatif. Cara ini membuat pikiran kita menjadi netral.”  (Fiqram:2017)

Kedua, manusia lahir sebagaimana fitrahnya, untuk memiliki keturunan. Ketika LGBT  dipandang sebagai hal positif yang tidak menimbulkan masalah, maka hal tersebut yang saya anggap sebagai masalah. Bagaimana dunia ini kedepannya jika hal terebut setiap harinya dianggap sepele dan mengalami peningkatan tanpa adanya pencegahan. Bagaimana masa depan anak cucu kita. Saya rasa kita jangan terlalu apatis terhadap persoalan kedepannya. Kita juga harus memikirkan dampak apa yang akan terjadi pada generasi kita.

Ketiga, LGBT tidak sesuai dengan nilai atau norma apapun yang ada dalam masyarakat. Dan hal tersebut adalah menyimpang.  Suatu penyimpangan dalam sosiologi akan memberikan dampak negatif. Jika ini dibiarkan maka penyimpangan tersebut akan mengubah tatanan social suatu masyarakat. Nila-nilai yang seperti apalagi yang akan dirubah dan ditanamkan jika hal ini tidak dicegah? Yang sudah jadi barang tentu tidak sesuai dengan pancasila.

“Menurut saya, agama kedamaian tidak pernah bertentangan dengan kebebasan manusia (hak asasi manusia). Bahkan jika ingin berpikir dalam-dalam, agama tidak pernah melakukan pemaksaan bahkan pengekangan terhadap kebebasan seorang manusia. Kalaupun Nabi Muhammad Saw hidup di zaman ini, ia akan membiarkan LGBT berkembang.”

Keempat, hak asasi manusia yang mana yang diperjuangkan jika perilaku tersebut diluar dari kemanusiaan. Toh, binatang saja masih suka dengan lawan jenisnya. Bagaimana dengan manusia yang berpikir? Apakah derajatnya sudah berubah? Manusia dibawah binatang? Saya rasa semua sudah memiliki jalan atau fitrahnya masing-masing. Yang jika hal tersebut keluar dari fitrahnya maka dianggap menyimpang.

Rasulullah datang ketika moral manusia sedang hancur-hancurnya, Beliau diutus untuk meluruskannya. Bagaimana mungkin penulis berpendapat bahwa Nabi Muhammad akan membiarkan LGBT berkembang? Sedangkan perilaku  LGBT tersebut merupakan suatu yang menyimpang. Sungguh saya yakin Rasulullah pun tidak akan pernah membiarkan suatu keburukan merajalela. Beliau tidak setega itu.

“Ingat, manusia itu dinamis. Hari ini bisa tersesat, mungkin esok hari ia mendapat hidayah dan berubah menjadi lebih baik. Memberi pengarahan dan informasi dengan cara yang sopan, lebih baik daripada ikut teriak dan memandang sinis kepada pelaku LGBT.”

Dan yang terakhir kritikan saya terhadap penulis mengenai kutipan diatas. Manusia memang dinamis, utamanya kehidupan yang membuat mereka dinamis. Namun apa jadinya jika LGBT tanpa pecegahan yang lebih serius. LGBT sudah terbukti merupakan suatu penyimpangan orientasi seks yang menular. Oleh karenanya ia tidak pernah terputus penyebarannya. Selain itu LGBT juga menjadi penyumbang terbesar penyakit seks. Jika tanpa pencegahan maka hal ini akan menjadi masalah besar kedepannya.

Hitler: “Adalah pengulangan yang membedakan kebenaran dari kepalsuan. (Sering kali) kepalsuan yang diulangi secara terus-menerus diterima sebagai kebenaran. Manusia bisa mempercayai apa saja. Ia bisa percaya pada kepalsuan. Ia bisa dibohongi dengan sangat mudah. Ia dapat mempercayai apa saja yang diulangi secara terus-menerus!”

      Saya rasa kritik karya tulis saya ini jauh dari sempurna dan dengan keterbatasan ilmu yang saya punya. Mari menciptakan demokrasi yang sempurna dengan menerima semua perbedaan. Namun jangan sampai perbedaan yang membawa kita pada sesatnya jalan kehidupan.

Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Kiat Investasi Masa Muda

money-2696234_960_720
https://pixabay.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Menyadari bahwa kesempatan masa muda patut untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya adalah salah satu karunia bagi orang-orang yang dicintai-Nya. Karena masa ini, semua potensi untuk melakukan aktivitas secara maksimal telah tersedia tinggal kita yang perlu bijak dalam menggunakannya.

Keuntungan masa muda adalah tubuh dan otak yang siap untuk digunakan secara maksimal. Coba bayangkan saja jika masa ini berlalu begitu saja tanpa kita manfaatkan dengan baik, sungguh meruginya kita sebagai manusia. Jangan sampai terlena oleh kenikmatan untuk berfoya-foya dan mengumbar kekuatan dan syahwat sehingga menjadi tuli dan buta terhadap nasihat dan peringatan.

Masa muda sebaiknya kita gunakan untuk berinvetasi. Yah berinvestasi untuk masa tua kita. Masa tua adalah keadaan dimana tubuh menjadi lemah dan mudah berpenyakitan dan tentunya segala aktivitas kita akan terbatas. Terbatas karena keadaan bukan karena keinginan.

Investasi yang dimaksud yaitu pertama, belajar banyak hal secara serius dan mendalam. Tentunya dengan membaca buku, membiasakan mencatat, menghapal pelajaran, diskusi atau sharing dan fokus. Hal ini sangat perlu, mengingat bahwa otak masih mudah dan cepat dalam menyimpan dan memproses. Jadi tidak ada kata sulit ketika kita masih mudalah wong kita sendiri kok sebenarnya yang sering membatasi diripada hal itu hanya ilusi dalam pikiran. Ketika kita mampu memahami bahwa apapun mampu kita pelajari. di masa muda sungguh semangat dan optimisme dalam belajar akan tumbuh dengan cepat dan terciptalah generasi cerdas harapan bangsa. Tentunya ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang baik dan perlu saling mengingatkan.

Kedua, menabung. Menabung sangat perlu di masa muda karena ketika tiba masa tua maka kebutuhan akan semakin banyak. Menabung mengajarkan kita memanfaatkan harta secara bijaksana. Hasil tabungan selain digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan juga dapat digunakan sebagai pegangang ketika situasi ekonomi semakin sulit.

Ketiga, memperbanyak silaturahmi (Networking). Kita sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri karena secara psikologis dan material kita membutuhkan orang lain. “1000 kawan itu sedikit, 1 musuh terlalu banyak” Kira-kira begitu kalimat yang tepat untuk menggambarkan bahwa memperbanyak teman itu sangat penting. Dalam hadist nabi juga disebutkan bahwa orang yang menyabung tali silaturahmi akan dipermudah urusannya dan akan ditambah usianya oleh Allah SWT.

Keempat, memperbanyak bepergian (merantau) ketempat yang berbeda dari kampung halaman. Merantau apalagi dengan tujuan yang baik seperti untuk menuntut ilmu atau merubah nasib sungguh memiliki manfaat positif, diantaranya membuat kita terlatih untuk dewasa dan mandiri karena tuntutan keadaan. Juga kita semakin sadar akan kekurangan dan kelemahan kita selama ini khususnya bagi mereka yang sangat bergantung pada orang tuanya. Merantau juga mengajarkan kita untuk semakin mencintai kampung halaman dan orang-orang yang ada di kampung halaman.Jika ingin berubah jadi lebih baik, maka merantaulah. Dalam rantauan dengan niat yang baik, akan kamu temukan berbagai hikmah kehidupan yang sangat berharga yang akan merubah dirimu menjadi lebih baik. Merantau adalah langkah awal untuk melakukan transformasi diri.

Andalan
Diposkan pada Edukasi

Pentingnya Karakter!

adventure-1807524_960_720
https://pixabay.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Sebagai manusia yang mulai memasuki masa dewasa, ada kebiasaan yang paling sering muncul. Adanya keinginan mandiri untuk dapat berpenghasilan dan lepas dari tanggungan orang tua. Siapapun itu yang pernah dan sedang mengalami fase ini pasti sangat bimbang apalagi yang tidak mempersiapkan diri sebelumnya.

Hal ini adalah sebuah konsekuensi hidup dalam alurnya. Semua manusia pernah mengalami ini. Namun karena semakin kuatnya keinginan untuk mandiri dan berpenghasilan sampai-sampai kebanyakan dari kita mengalami mis-orientation ke pikiran yang harus menghasilkan. Bahkan parahnya, ukuran produktif dikerdilkan hanya sebatas menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Padahal ada yang terpenting yaitu nilai.

Yah nilai menjadi penting. Apalagi nilai ini yang membentuk karakter. Karakter adalah kebiasaan yang dibentuk secara disiplin dan sadar. Didalamnya ada usaha dan pengorbanan. Awalnya pahit tapi lama-lama menjadi manis.

Hal-hal baik yang dilakukan setiap hari akan menjadi kebiasaan baik dan kebiasaan baik ini akan mengkritas menjadi sebuah karakter pada diri seseorang. Lahirnya karakter bukan hanya dari kebiasaan tapi bagaimana sebuah makna atau nilai kita lihat berdasarkan sudut pandang yang kita yakini juga. Apabila karakter ini terbentuk dengan baik maka hasilnya tinggal menunggu waktu saja.

Seperti dalam sebuah perkuliahan, saya pernah mendapat petuah dari dosen saya. Bahwa mahasiswa itu seharusnya bukan hanya menambah ilmu dan pengetahuannya saja tapi bagaimana membentuk karakter-karakter bijak dan orang terdidik dalam dirinya dan itu bisa dibentuk selama rentang waktu awal sampai akhir masa perkuliahan.

Apa yang dosen saya katakan saya bisa pastikan itu lahir dari sebuah pengalaman bukan lahir dari hasil baca buku saja.

Kembali lagi ke mis-orientation tadi yang harusnya fokus membentuk karakter dalam memaknai suatu pekerjaan bukan hanya fokus untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.

Dalam hal apapun itu, bentuklah karakternya lebih dahulu sebelum pekerjaan itu dilakukan jangan sampai sebaliknya. Pekerjaan yang membentuk sebuah karakter. Karena ini menjadi susah. Membentuk karakter bukan hanya perkara 1 atau 2 hari tapi proses sepanjang hidup.

Jika dalam Ilmu Otak, Karakter itu seperti terbentuknya sebuah sirkuit untuk menjalankan sebuah fungsi tertentu jadi butuh waktu yang lama. Bukan proses yang langsung jadi secara instant walau memang tidak dinafikan akan bisa terjadi dengan semangat dan keinginan yang kuat diserta dengan kondisi lingkungan yang mendukung karena pada otak manusia ada potensi melakukan proses Neuroplastisitas yaitu proses merubah struktur otak dengan pengkondisian dan pengaruh lingkungan tertentu.

Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Demi Waktu!

time-2980690_960_720
https://pixabay.com/id

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Waktu, ia akan berjalan terus mengikuti tugas yang telah diberikan padanya, tak pernah kulihat waktu lalai dalam menjalankan tugasnya. Tanpa mengenal suap, ia berjalan dengan idealisnya. Mungkin kita butuh belajar dengan waktu dalam hal bersikap.

Tanpa mengenal kompromi, ia menciptakan berbagai situasi dan kondisi yang entah itu penting atau tidak, tak pernah sedikitpun ia pikirkan sama sekali. Apakah waktu itu mati rasa atau ia tak memiliki rasa? Apakah ia hanya sekedar alat untuk dijadikan manusia sebagai tanda dalam beraktivitas? Entahlah… tak ada didunia ini yang sia-sia, semua tergantung persepsi dan cara kita menyikapi saja.

Waktu dapat kita ibaratkan apapun yang dapat kita gunakan sebagai filosofi berpikir agar waktu itu dapat ditukar atau digunakan untuk hal yang bermanfaat. Misalnya waktu itu adalah uang. Uang yang akan habis pada akhirnya. Jika kita membuat pernyataan seperti itu berarti waktu yang berjalan terus akan terbuang percuma jika kita tak menukarnya atau memanfaatkannya untuk hal yang berguna misalnya untuk belajar, membaca buku, silaturahmi, dll. Besarnya jumlah uang akan setara dengan jumlah waktu yang akan kita tukarkan dengan hal yang berguna.

Setiap manusia punya jangka waktunya sendiri untuk hidup di dunia ini. Pernahkah kita renungkan telah kita gunakan untuk apa waktu yang telah kita lewati? Seberapa besarkah kita gunakan untuk hal yang bermanfaat misalnya dalam hal belajar ilmu agama?

Memaksimalkan waktu dengan baik, perlu manajemen yang baik pula. Kapan waktu untuk tubuh (istirahat), kapan waktu untuk ibadah, kapan waktu untuk belajar, kapan waktu untuk silaturahim, semua harus diatur agar kita tidak serampangan dalam menggunakan waktu.

Waktu adalah guru yang baik karena dengan waktu kita dapat mempelajari atau mengetahui sesuatu yang telah terjadi sehingga kita dapat lebih baik dalam melakukan hal yang akan terjadi dimasa depan.

Waktu dapat merubah segalanya yang ada di semesta ini karena semua tunduk pada sunnatullah (hukum alam) yang telah ditetapkan oleh sang pencipta. Begitupun ini akan berimplikasi pada sikap dan sifat manusia yang dinamis.

Adapun ukuran waktu bermacam-macam ditetapkan oleh manusia, ada yang dinamakan detik, menit dan jam, ada juga tahun. Semua itu hanya dijadikan sebagai tanda dan ukuran saja dalam memudahkan segala aktivitas yang dilakukan manusia.

Setiap waktu yang dilalui oleh manusia adalah karunia dari sang pencipta yang begitu indah, karena ia adalah potensi netral yang dibebaskan kepada manusia untuk digunakan.

Setiap waktu yang berlalu seharusnya mengajarkan kita bahwa tidak ada yang abadi didunia ini. Semua berubah dalam perubahannya masing-masing. Semua hal yang melekat dalam diri seharusnya mendapat jatah dalam pemanfaatan waktu. Jika tidak maka yang terjadi adalah ketidak seimbangan misalnya usia yang tidak singkron dengan tingkat kedewasaan. “tua itu pasti, dewasa itu pilihan!”

(1) Demi masa ‘waktu’, (2) Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakanan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (Al-‘Asr [103]:1-3)

 

Semoga bermanfaat.

 

Andalan
Diposkan pada Edukasi

Problem Kita Hari Ini!

question-2736480_960_720
https://pixabay.com

Oleh: Ray Akbar Ramadhan

(Mahasiswa STIE Muhammadiyah Mamuju)

Manusia adalah makhluk yang mulia ibarat cahaya matahari yang menyinari alam semesta dengan kekuatan cahayanya sebab dengan akalnya dia mampu membangun jiwa-jiwa yang terjebak pada kegelapan demi menuju entitas kehidupan yang lebih bercahaya dalam bimbingan Ilahi.

Kehidupan semakin membawa manusia kepada titik tanda tanya yang penuh dengan tantangan realitas kehidupan yang serba pragmatis dan hedon, bahkan telah mengobrak-abrik akal dan perilaku manusia sehingga menjadi tidak sehat.

Hidup serba perhitungan demi keuntungan dan fokus hanya pada target kesenangan belaka. Bahkan diakibatkan era globalisasi yang sangat pesat ini, kecanggihan teknologi yang membuat kehidupan serba instan telah menciptakan manusia-manusia yang lupa akan tujuan hidup sebenarnya dan telah dicengkram oleh kehidupan yang tidak lagi mengenal nilai-nilai kemanusiaan. Sebab yang ada dikepala mereka hanyalah pemikiran yang mencari pemuasan atas kebutuhan nafsu syahwat belaka.

Sering muncul dibenak ini pertanyaan-pertanyaan dan pemikiran yang menggangu tentang realita aneh yang tidak masuk akal sehat.

Pertama, korban-korban hegemoni dunia maya yang tidak sadar. Mengenai sebab masalah yang membuat manusia zaman ini terjebak pada sistem sosial yang tanpa mereka sadari mereka adalah korban-korban hegemoni dunia maya. Hanya dengan melihat layar handphone, banyak orang terhipnotis dan tidak sadar akan dunia nyata yang sesungguhnya.

Apakah dunia maya sebegitu pentingnya dari dunia sesungguhnya? Seakan-akan image di dunia maya perlu lebih baik dari image di dunia sesungguhnya. Sampai-sampai pencitraan menjadi gaya hidup sehari-hari. Hal ini sama saja menyuburkan sifat menipu dalam diri sendiri.

Kedua, interaksi lawan jenis. Di zaman ini tak lagi mudah membedakan mana pasangan insan yang telah halal dan mana yang belum karena begitu banyak postingan-postingan media sosial maupun yang terlihat langsung oleh mata kepala terlihat nyata suatu adegan atau aktivitas interaksi layaknya suami istri. Hal ini sama saja membiarkan diri diperbudak oleh nafsu sendiri.

Ketiga, pemerintah selalu melakukan pencitraan dan mengumbar janji palsu. Jika kita menyorot dunia kepemerintahan, ternyata didalamnya masih banyak binatang buas yang memangsa hak rakyat, begitu hebatnya mereka tampil dan terus memberikan pencitraan kepada masyarakat hanya untuk kepuasan diri sendiri. Mereka hadir bukan sebagai manusia yang menjawab berbagai tantangan zaman tapi malah menjadi aktor kesenjangan sosial.

Sampailah pada pertanyaan puncak, adakah suatu sistem yang mampu memperbaiki kembali kehidupan ini yang didalamnya terpenuhi dengan kedamaian, kesejahteraan dan keadilan yang penuh cinta?

Solusi atas masalah-masalah diatas hanyalah dengan mengajak kembali para pemimpin-pemimpin negeri dan para pemangku kebijakan kembali kepada fitrahnya. Tetapi mungkinkah mereka mampu kembali kepada fitrahnya? Jika selama ini masih saja terdengar teriakan-teriakan perlawanan kepada para elite negeri yang hanya mampu memberikan kesengsaraan kepada masyarakat. Semoga saja dengan teriakan-teriakan perlawanan tersebut mampu membantu mereka kembali kepada fitrahnya.

Di zaman ini sebutan mahasiswa tak lagi sakral ditengah-tengah masyarakat karena telah banyak mahasiswa yang masuk dalam dunia pragmatis dan hedon yang hanya bisa memamerkan style dan mengandalkan orang tua sebagai pemenuhan kebutuhan pragmatisnya. Mereka tak lagi berfikir bagaimana melakukan perubahan dan mampu memberikan arti kepada masyarakat tetapi yang ada didalam kepalanya hanyalah kesenangan belaka sehingga membuat mental mereka menjadi mental kerupuk yang sangat mudah baper.

Tetapi saya yakin masih ada segelintir mahasiswa yang tetap konsisten dengan nilai-nilai perjuangan mereka dan akan melakukan perubahan yang dimana dunia mereka hanya dunia belajar yang dipenuhi dengan ide-ide yang cemerlang dan semangat juang yang tak pernah padam. Kami tunggu kedatangan kalian wahai mahasiswa yang masih konsisten untuk menjawab tantangan zaman yang telah mencengkram kehidupan. “Sebab yang berjuang mungkin menang dan yang tidak berjuang mustahil menang”.

Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

The Man Who Knew Infinity

6a00d8341bf7f753ef01bb095487f2970d
http://www.beatkillergang.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Pagi ini saya melanjutkan menonton film The Man Who Knew Infinity setelah kemarin sempat terpotong karena urusan yang mengharuskan saya untuk menghentikan aktivitas menonton.

Film ini sangat menginspirasi. Menceritakan seorang India yang dikaruniai kecerdasan matematika tanpa belajar disekolah formal yang akhirnya diundang ke Universitas Cambridge untuk mempublikasikan temuannya dalam matematika.

Hal yang saya dapatkan bahwa kecerdasan seseorang pada bidang tertentu ternyata memang menakjubkan apalagi jika itu sudah membuat cinta dalam melakukannya. Ramanujan adalah laki-laki yang berasal dari India itu dan mendapat pementor Mr. Hardy dan Koleganya Mr. Littlewood dan Bernard Russel.

Kecerdasan yang dikaruniakan oleh Tuhan ini dapat diperoleh melalui intuisi dan dibuktikan dalam film ini. Setiap Ramanujan membuat coretan rumus dalam menuliskan angka-angka matematikannya hal itu mengalir dengan sendirinya. Kata Ramanujan, saat ditanya oleh Mr. Hardy ia mengatakan bahwa ‘entahlah datang dari mana. Ia datang begitu saja dalam pikiranku’.

Banyak pelajaran dan motivasi yang saya dapatkan dari film ini. yang pertama, setiap manusia memiliki kecerdasan tertentu yang sangat perlu untuk diketahui sejak dini agar kecerdasan itu menjadi bagian diri atau menjadi aktivitas sehari-hari.

Kedua, walaupun memiliki kecedasan maka sangat perlu untuk mengasahnya, melatihmya atau mendokumentasikannya agar hasil kecerdasan ini nantinya akan berguna bagi kehidupan umat manusia.

Ketiga, darimanapun kita berasal dari latar belakang budaya atau agama apapun, kesamaan minat dan jalan hidup akan menyatukan.

Keempat, perlu usaha ekstra dan perjuangan yang kuat untuk meyakinkan dunia pada hasil yang kita percayai mengenai kecerdasan kita.

Lima, sangat perlu mempunyai mentor yang bukan hanya mendukung tapi juga meyakinkan kita terhadap setiap keputusan yang kita ambil.

Enam, tetaplah semangat karena tanggung jawab bukanlah penghalang untuk tenggelam dalam hobi atau kesenangan kita.

Saya berharap saya bisa mendapatkan kesempatan seperti Ramanujan yang memiliki kesempatan menjadi Fellow Royal Society dari Cambridge University atau mendapat mentor yang hebat seperti Mr. Hardy yang membimbing dengan penuh tanggung jawab dan penuh kepercayaan.

Menonton film itu harus selektif. Cari dan pilih film yang menginspirasi dan mengedukasi dan rasakan sensasinya.

Andalan
Diposkan pada Edukasi

Bahasa Daerah Sebagai Representasi Bhinneka Tunggal Ika

37423869271_1580a482ce_h
https://www.flickr.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Indonesia adalah negara kepulauan. Lebih dari 500 suku bangsa di Indonesia merupakan pernyataan yang jelas untuk menunjukkan keragaman budayanya yang mencakup bahasa, agama, ilmu pengetahuan, kekerabatan, sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik yang dipraktikan pada tingkat lokal (Irwan Abdullah, 2010: 64). Dalam hal bahasa, negara Indonesia memiliki jumlah bahasa daerah sekitar 750 bahasa (Apri Subagyo, 2013: 107).Keadaan ini disatu sisi mendatangkan kemudahan dan disisi lain mengakibatkan kesulitan dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkarakter kebangsaan (character building) bersatu.

Bahasa adalah simbol yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi, membentuk kebudayaan dan menciptakan peradaban. Bahasa merupakan salah satu unsur dalam kebudayaan (Koentjraningrat, 2007).  Bahasa dijadikan sebagai media komunikasi agar manusia dapat berinteraksi satu sama lain dan menjalankan fungsinya sebagai makhluk sosial. Selain itu, bahasa juga digunakan untuk mencirikan identitas budaya daerah tertentu.

Indonesia yang memiliki semboyan “berbeda-beda tetapi satu” (bhinneka tunggal ika) dapat digunakan sebagai problem solving dalam mengatasi keanekaragaman dalam segala aspek sosial dalam kehidupan bernegara serta dibutuhkan untuk mengikat pluralisme budaya Indonesia (Irwan abdullah, 2010: 63-64). Semboyan bhinneka tunggal ika tidak lagi ramai dan keras disuarakan akhir-akhir ini, tetapi semboyan itu menyisakan banyak cerita tentang bagaimana kebudayaan diperlakukan selama kurang lebih setengah abad (Irwan Abdullah, 2010: 63).

Modernisasi dan globalisasi yang telah memasuki wilayah lokal telah menjadikan sekelompok manusia tradisional menjadi manusia modern, bukan hanya mengubah gaya hidupnya (life style) tetapi sebenarnya telah menghilangkan sifat dan karakter dasar dari etnis bersangkutan. Terutama karena pengaruh globalisasi, negara Indonesia dengan perantara pemerintah –pada waktu itu orde baru- mengharuskan mempunyai bahasa nasional sebagai identitas negara. Hal ini akan mengakibatkan dampak buruk seperti yang dikatakan Prof. Irwan Abdullah, ‘kesalahan pengelolaan keragaman budaya’. Selain memarginalkan bahasa daerah dengan mewajibkan bahasa indonesia di bangku sekolah, juga akan mengurangi jumlah generasi penutur dan ruang gerak bahasa daerah.

Bahasa daerah sebenarnya bisa dijadikan sebagai bahasa alternatif dalam pembangunan. Akan tetapi dominansi bahasa Indonesia telah mengikis kredibilitas bahasa daerah sebagai identitas bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Jangan karena teori integrasi sosial yang diperkenalkan oleh Emile Durkheim, bhinneka tunggal ika ditafsirkan dengan kaca mata kuda. Bhinneka tunggal ika bukan masalah penampakan eksternal seperti perbedaan bahasa, suku, dll. Akan tetapi itu masalah rasa kepemilikan dan kebersatuan. Keliru jika dikatakan bahwa bahasa daerah hanya milik orang desa dan di kota wajib pakai bahasa Indonesia agar terkesan trendy atau up todate. Makna bhinneka tunggal ika yang sesungguhnya adalah rasa kesatuan didalam perbedaan.

Mari kita kembali mengenalkan bahasa daerah di lingkungan keluarga sebagai bahasa sehari-hari dan memasukkan kembali bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di sekolah yang kian hari semakin tidak jelas posisinya. Dengan demikian, sama halnya kita melestarikan budaya leluhur dan menjiwai kembali bhinneka tunggal ika dengan semangat baru sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berangkat dari penyadaran yang kecil, perubahan besar akan terjadi.

 

Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Kau Gunakan Apa Masa Mudamu?

Man traveler is writing on dairy , while is relaxing in the cafe
https://www.pexels.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Waktu akan berjalan terus mengikuti tugas yang telah diberikan padanya, tak pernah kulihat waktu lalai dalam menjalankan tugasnya. Tanpa mengenal suap, ia berjalan dengan idealisnya. Mungkin kita butuh belajar dengan waktu dalam hal bersikap.

Waktu bergerak maju tanpa mengenal kompromi, ia menciptakan berbagai situasi dan kondisi yang entah itu layak atau tidak, tak pernah ia pikirkan sama sekali bahkan sedikitpun. Begitupun juga usia yang semakin hari semakin menua saja yang selalu diiringi oleh waktu.

Semua manusia pernah, sedang dan akan mengalami yang namanya masa muda. Masa muda hanya terjadi satu kali dalam siklus kehidupan manusia dan itu adalah sebuah kesempatan emas untuk berkarya dan berprestasi serta mengasah potensi diri.

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, masa muda seseorang terhitung sejak ia berusia 17 sampai 25 tahun. Di bawah usia itu maka termasuk masa remaja sedangkan usia 26 sampai 39 tahun termasuk masa dewasa. Jadi bisa dikatakan bahwa masa muda adalah masa transisi antara masa remaja ke masa dewasa.

Mengapa sangat penting membincang masa muda? Karena banyak fakta yang sering terabaikan oleh kita tentang potensi masa muda yang membuat kita kurang mampu memaksimalkan atau memposisikan diri kita bahkan sialnya terlalu sering membuatnya berlalu begitu saja. Berikut akan saya paparkan beberapa faktanya.

Fakta pertama bahwa di masa muda tubuh kita dalam keadaan prima atau dalam puncaknya kesehatan bukan berada dalam masa penuaan. Penuaan mulai terjadi di pertengahan masa dewasa dan ada juga yang mulai merasakan penuaan di awal masa dewasa akibat pola hidup yang kurang baik. Otak juga lagi berada dalam kondisi primanya untuk dimaksimalkan fungsinya karena pada masa ini, bagian otak yang mengatur tentang decision making, future planning dan sosial judgment yaitu Korteks Prefrontal akan mengalami perkembangan yang begitu pesat jika digunakan secara maksimal.

Fakta kedua adalah ketika mempunyai keinginan yang sudah dicintainya dalam sesuatu hal maka energi yang dihasilkan sangat besar sehingga terkadang diluar akal sehat dapat membuat karya luar biasa. Semangat mentalnya terkadangan meluap-luap melampaui kondisi fisiknya. Makanya sangat baik kiranya disetiap kota mempunyai sebuah wadah –komunitas- yang menaungi kreativitas dan inovasi anak muda dalam berkarya yang saling bersinergi.

Fakta yang ketiga adalah potensi kreativitas yang tiada batas. Hal ini karena pada umumnya anak muda belum terlalu dibebani dengan tuntutan sehingga pikirannya belum terlalu terbagi-bagi. Bagi anak muda yang sudah menemukan kesenangannya dalam sesuatu, hanya perlu diberikan sedikit model atau inspirasi maka kreativitasnya akan terpicu untuk semakin berkembang. Contohnya di kota Bandung, ada sebuah wadah industri kreatif untuk menyatukan beberapa komunitas-komunitas kreatif sehingga banyak inspirasi dan karya yang membanggakan yang tercipta yang bukan saja memuaskan secara ekonomi tapi memberikan pelajaran bahwa ada kepuasan tersendiri ketika menciptakan sebuah karya.

Fakta yang keempat adalah usia yang menguntungkan untuk mengabdi secara totalitas. Ketika masa remaja, rasa gengsi pada diri seseorang umumnya masih dominan terlihat sehingga masih terbatas dalam melakukan sesuatu. Begitu pula pada usia dewasa, akibat tuntutan hidup yang harus dipenuhi membuat seseorang enggan untuk melakukan kegiatan sosial apalagi berbasis pengabdian. Berbeda pada usia muda, pola pikir yang mulai matang yang telah berfokus pada kebermanfaatan sosial ditambah sifat idealis yang tumbuh membuat anak muda sangat mudah untuk melakukan kegiatan pengabdian (volunteer).

Mungkin itulah beberapa fakta yang ada tentang masa muda yang dapat saya tuliskan. Kemungkinan masih banyak fakta dahsyat lain yang belum sempat terpaparkan dalam tulisan ini. Apa yang saya saya tulis ini hanyalah salah satu bentuk pemanfaatan masa muda untuk membebaskan potensi kreativitas dalam berkarya

Mari sama-sama kita maksimalkan masa muda kita. Jangan sampai masa muda kita ini berlalu begitu saja tanpa adanya suatu prestasi yang kita ukir apalagi diakhirat kelak akan dimintai pertanggung jawaban; sudah kau gunakan untuk apa masa mudamu?. Sungguh merugi jika kita tidak memaksimalkan masa ini, terutama untuk kegiatan yang positif.

Setiap manusia telah diberikan jatah usia. Janganlah kita menghabiskan usia hanya untuk menumpuk harta kekayaan, mengejar kedudukan dan pangkat apalagi hanya untuk kesombongan dan kenikmatan sesaat semata. Berpikir panjanglah untuk akhirat dan generasi yang akan datang. Karena kamu hidup bukan untuk dirimu sendiri tapi untuk generasi anak cucumu yang akan datang.

Banyak kesempatan yang berlalu begitu saja bukan karena tidak mampu memanfaatkannya akan tetapi belum tahu dan menyadarinya. Alangkah lebih baiknya lagi jika sudah tahu dan sadar kemudian menerapkannya karena ada dua kriteria orang bodoh di dunia ini, yang pertama bodoh karena memang tidak memiliki pengetahuan dan yang kedua bodoh karena memiliki pengetahuan tapi tidak diterapkan atau digunakan. “Mari menua dengan prestasi dan karya”.

Qureta, 3 Juli 2017.

 



Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Ego dan Ilusi Diri

selfie-portrait-picture-photo
stock.tookapic.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Pagi itu saya membaca buku Spiritual Thinking karya Priatno  H. Martokoesoemo. Tahun lalu (2016) bersama laskar langit Happiness House karena takdir, dipertemukan dengannya dan belajar langsung dengan beliau.

Buku ini membantu saya memikirkan kembali bagaimana saya membentuk pikiran saya dan berbagai hal klasik yang sebenarnya sudah saya anggap tepat tapi ternyata keliru. berikut saya copas dari halaman 63-65:

Ego adalah penghalang kita untuk mendekar, mengenal dam bersama Allah karena di dalam ego hiduplah nafsu yang kuat dan bertebaran “tanaman” ilusi demi ilusi.

Ego adalah ilusi tentang diri kita sendiri. jika kita percaya bahwa kita “bodoh”, ini adalah sebuah ilusi yang tidak ada bedanya dengan kita percaya bahwa kita “padai”, jika kita terlalu suntuk memikirkan diri sendiri, kita bisa tenggelam dalam ilusi yang berbahaya. Hal ini bisa mengakibatkan penderitaan yang terus-menerus. Misalnya, kita percaya bahwa diri kita adalah orang yang terhormat sehingga jika seseorang melakukan sesuatu yang menurut kita tidak pada tempatnya, kita pun marah.

Dalam buku Your Sacred Self, psikolog Wayne W. Dyer menulis, “Ego adalah suatu ode mental, tidak terlihat, tidak punya bentuk. Ego tidak lain adalah ide dan konsep mengenai Anda sendiri, soal badan, dan jiwa Anda sendiri.”

Wayne W. Dyer kemudian menjelaskan secara lebih detail tentang tujuh karakteristik ego, yaitu:

  1. Ego adalah konsep diri yang salah;
  2. Ego mengajak individu untuk memisahkan diri dari manusia yang lain;
  3. Ego mencoba meyakinkan diri Anda bahwa Anda adalah sosok yang “Spesial”;
  4. Ego menyebabkan seseorang menjadi mudah tersinggung;
  5. Ego menyebabkan seseorang menjadi pengecut;
  6. Ego mengajak seseorang menikmati kerakusan;
  7. Ego menyebabkan seseorang menjadi “gila”.

Ego muncul disebabkan identitas diri yang berlebihan. Orang-orang beriman melepas semua identitas mereka kecuali yang ada dalam Al-Quran, dan salah satunya, yaitu “saya adalah hamba Allah”. Mereka berusaha sekuat tenaga meninggalkan dirinya dan bergerak menuju Tuhannya.

Jika dicap bodoh, pandai, buruk, cantik, kaya, miskin atau apapun, orang beriman tidak terpengaruh. Dia menganggap semuanya sama saja, itu hanya sebuah konsep mengenai diri (self concept). Dia mengerti bahwa semua “cap” dan “sebutan” tadi hanya sebuah ilusi yang menenggelamkan. Dia menolak segala konsep, sebutan, dan cap dari manusa, kecuali hal-hal yang ditentukan oleh Allah Swt.

Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Perlunya Membaca Buku

Coffee Break Reading Travel Book Lifestyle Concept
http://www.lifeofpix.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Kira-kira begitulah memaknai pentingnya sebuah buku bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas kemanusiaan kita. Jika ingin menjadi manusia yang bijak maka membaca buku adalah awalnya.

Membaca buku sangat penting untuk kemajuan sebuah negara atau kalau terlalu jauh, sangat penting bagi kemajuan suatu daerah. Kualitas manusia bisa dilihat dari kuantitas baca buku masyarakatnya, kira-kira seperti itu.

Di negara jepang, di pusat kotanya ada sebuah patung yang berbentuk seperti permainan jungkat-jungkit -kalau di Indonesia- yang memperlihatkan disebelah kirinya ditunggangi oleh tiga orang manusia sedangkan disebalah kanannya diletakkan sebuah buku yang arah beratnya kekanan yaitu kebuku. Patung ini mencoba memberikan makna filosofis bahwa sebuah buku yang dibaca lebih bermanfaat daripada berkumpul untuk perbuatan sia-sia.

Aktivitas membaca buku sangat bermanfaat bagi seseorang yang melakukannya karena sama saja halnya menukarkan waktunya –jika tidak melakukan apa-apa- dengan mengisi otaknya dengan ilmu pengetahuan, informasi atau wawasan yang nantinya akan berdampak pada pola pikirnya. Hampir bisa saya jamin bahwa orang yang sering membaca akan memiliki sikap yang bijak, cerdas dalam mengambil keputusan dan berwawasan luas.

Sebenarnya sikap emosional yang sering muncul dalam seseorang bisa dikarenakan karena sempitnya wawasan yang ada dalam pikirannya dikarenakan malas membaca dan malas bergaul. Ada juga yang sering bergaul tapi tidak mempelajari makna yang terjadi selama ia bergaul –tidak menyadari- atau mengambil pelajaran dikarenakan sempitnya wawasannya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan yang membawa manfaat, sering sekali hanya mengikuti apa yang terjadi bukan ia yang menciptakan kondisi tapi ia yang sering mengikuti kondisi.

Juga sikap taklid buta –ikut-ikutan- yang sering dipraktekkan masyarakat awam dilingkungannya dikarenakan kurang membaca buku. Efeknya pasti akan menimbulkan permusuhan, perpecahan, sikap dongkol, keras kepala, dll yang tidak membawa kemaslahatan sedikitpun. Itulah mengapa dalam agama Islam orang yang berilmu itu lebih tinggi derajatnya yah karena mereka luas wawasannya, bijak sikapnya dan cerdas dalam mengambil keputusan. Ia mampu berpikir panjang tentang manfaat atau kerugian yang akan terjadi bukan cuma sekedar mampu membedakan yang baik dan buruk tapi hanya dalam kerangka teori saja sedangkan dalam tindak nyata adalah nol besar.

Saya sering heran dengan orang yang tidak indah parasnya –ini hanya hasil penilaian subjektif atas perbandingan dengan keadaan sekitar- tetapi sering mengeluh dan malas. Seharusnya ia sadar diri dengan keadaannya. Apalagi yang harus diharapkan jika tidak mengubah diri kearah positif. Sudah parasnya yang tidak indah dipandang, perbuatannya maksiat terus, pikirannya negatif (pesimis), miskin harta lalu malas beribadah lagi, sudahlah sebaiknya bertobat saja atau pergi kehutan jadi monyet saja. Kurang bersyukur sekali jadi manusia. Itulah orang yang tidak mau membaca buku.

Jadi untuk mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik seperti para tokoh-tokoh dunia yang tercatat dalam sejarah, saya sarankan untuk mengawali usaha dengan rajin membaca buku. Karena konsepnya cukup sederhana: paksakan, biasakan, dan akhirnya merasa butuh.

Semoga bermanfaat.

Andalan
Diposkan pada Edukasi

Ulang Tahun Berujung Tangis!


paper-933661
https://www.qureta.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Sampai saat ini saya belum pernah mengamini tindakan yang mengerjai/menjaili orang yang ultah (ulang tahun), apalagi dilakukan oleh orang-orang terdidik hanya karena alasan mengikuti trend. Kenapa saya tidak mengamininya? Karena tindakan seperti itu adalah tindakan yang tidak berguna. Coba dipikirkan baik-baik tindakan seperti mengikat orang yang ultah, melemparnya dengan telur busuk, melemparnya dengan air got atau yang paling parah melemparnya dengan kotoran. Ini tindakan dan perilaku orang yang tidak terdidik.

Seperti kasus yang menimpa Yusuf Permana siswa SMA. Yusuf di kerjai oleh teman sebangkunya sewaktu ultah dengan melempar telur busuk dikepalanya sampai berujung tragis matanya perlu dioprasi karna iritasi serius, bersumber dari kitabisa.com. Sekarang orang terdidik melakukan hal seperti itu. Inilah gaya hidup yang ditiru tanpa filter. Asal tiru saja karena nge-trend padahal tidak memiliki nilai sama sekali. Yakinlah sesungguhnya yang melakukan itu sama saja ingin kembali kezaman jahiliah (kebodohan).

Jika ingin dibedah dari akarnya, perilaku seperti ini lahir dari gaya hidup hedonis yang pahamnya disebut hedonisme. Dilihat dari kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maka kita rujuk pengertiannya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia; Hedonisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Secara umumnya, hedonisme bermakna kesenangan yang merupakan satu-satunya manfaat atau kebaikan. Kata kuncinya “kesenangan” atau ekstremnya men-Tuhan-kan kesenangan. Entah itu senang karena orang lain kesakitan atau senang karena lagi mengikuti trend yah itulah hedonisme.

Kenapa saya perlu mengangkat hal ini sebagai sebuah tulisan? Alasannya simpel kangkawans, agar kita sebagai orang-orang yang ngakunya terdidik bisa sedikit ngeh ­ dan kiranya dapat berpikir dan bertindak layaknya orang terdidik.

Dari hal yang sepele seperti ini, lama kelamaan generasi muda Indonesia jadi kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Lah kenapa bisa tuh? Yah karena kebiasaanya itu loh yang sering jadi follower. Lebih percaya diri mengikuti trend gaya hidup Barat. Atau bisa juga identitas kita sebagai bangsa Indonesia hanya tinggal sejarah.

Apa yang coba saya analisa dari kenyataan gaya hidup kita diatas hanya salah satu dari sekian banyak kebiasaan yang kita tiru dari luar tanpa filter. Bukankah bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang berbudaya? Kehidupan bangsanya memiliki nilai-nilai budaya yang mengakar kuat sebagai sebuah karakter sopan santun dan kebaikan? Kenapa generasi muda kita begitu mudahnya meniru gaya hidup Barat? Ada apa dengan sistem pendidikan kita? Jangan salahkan teknologi dan globalisasi karena hanya orang yang lemah yang menyalahkan orang lain atas kesalahan dan kemuduran dirinya.

Pernahkah kita memanfaatkan pikiran kita secara serius untuk memikirkan tindakan dan perilaku kita yang dikerjakan selama ini. Jangan-jangan perkataan Henry Ford yang menyatakan bahwa berpikir itu adalah pekerjaan paling berat, masih tak terpatahkan. Atau jangan sampai kita kehilangan kesadaran dan beraktivitas layaknya robot bergerak statis, tanpa inisiatif.

Sampai kapan ingin terjebak dengan kebiasaan-kebiasaan tanpa berpikir seperti ini? jika orang terdidik saja terjebak dalam kebiasaan seperti ini, jangan harap kemajuan akan terjadi.

Pusgit.com, 29 Juli 2017

Andalan
Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Tidak Ada Inspirasi? Nulis Aja.

pexels-photo-210661
https://www.pexels.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Yah seperti judul itulah inti tulisan yang ingin saya buat ini karena pada intinya apa yang saya tulis bukan karena adanya ide tertentu mengenai sesuatu yang saya lihat atau saya dengar mengenai realita peristiwa disekitar. Saya hanya mau menuliskan ketidaktahuan saya. Saya berharap saja semoga apa yang saya tuliskan ini menjadi ide atau minimal menjadi inspirasi bagi orang yang membacanya bahwa tanpa inspirasi atau ide, kita dapat menuliskan ketidaktahuan kita.

Yang dibutuhkan hanya kemauan saja. Menulis itu tidak harus terkungkung dengan standarisasi semu atau tolak ukur jeruji kreativitas. Menulis itu adalah berekspresi. Apa yang dipikirkan dan dirasakan itulah yang menjadi bahan tulisan. Bahkan ketika kita berpikir untuk tidak memiliki inspirasi untuk menulis itu adalah sebuah pikiran yang harus ditulis. Hal ini saya dapatkan ketika saya mengikuti acara diskusi peradaban literasi.

Dalam kajian diskusi tersebut dikatakan bahwa literasi itu adalah kegiatan membaca dan menulis yang menjadi satu paket bagai dua sisi mata uang logam yang berbeda yang membentuk sebuah nilai, seperti juga mewakili sayap burung agar bisa terbang. Keduanya saling melengkapi untuk membentuk sebuah fungsi atau nilai yaitu literasi.

Ngomong-ngomong tentang literasi. Saat ini dunia baca-tulis sudah mulai sedikit demi sedikit hilang dari permukaan zaman, seperti terkikis karena perkembangan dunia teknologi yang begitu pesat. Bahkan koran saja sudah mulai lenyap dalam peredaran bahkan mulai diganti dengan koran online di internet. Begitu juga buku-buku sudah mulai diubah menjadi E-Books atau buku digital yang bisa diakses lewat internet juga. Saya merespon baik hal ini akan tetapi ini terlalu cepat. Serba salah juga berkata demikian karena abad 21 ini memiliki ciri khas bergerak cepat adalah keunggulan.

Perubahan budaya ini adalah efek dari perubahan kondisi zaman juga. Walau hal ini akan menjadi biasa nantinya, saat ini perlu untuk membiasakan diri juga karena dengan menolak atau menutup diri juga itu bukan perilaku bijak. Jujur saja, saya masih menyukai membaca buku yang dicetak atau koran yang diantarkan langsung kerumah yang nyata, ada fisiknya. Saya pikir itu ada seninya. Walau disatu sisi, kita dapat melakukan penghematan kertas dan berdampak pada berkurangnya pohon yang ditebang karena bahan pokok kertas adalah pohon. Yah mungkin itu adalah hukum alam, ada negatif tentu ada positifnya, ada kekurangan tentu ada kelebihannya. Tidak perlulah kita persoalkan itu yang penting semangat literasi kita tetap berkobar untuk menjadi manusia produktif dan berkualitas agar dapat dikenal dunia. Itu salah satu cita-citaku.

Padahal tadi ngomongnya tidak punya ide/inspirasi malah sampai membahas tentang dunia literasi. Yah begitulah guys, terkadang kita terkungkung hanya dalam pikiran sebelum mencoba. Kita kalah sebelum berperang, kita menyerah sebelum mencoba. Yang bijak adalah mencoba tapi gagal daripada gagal karena tidak mencoba dan menyalahkan keadaan.

Maka dari itu cobalah karena itu adalah bentuk pergerakan dan bergerak adalah salah satu ciri kehidupan. Adakah didunia ini yang tidak bergerak? Menurut saya tidak ada. Bahkan benda matipun yang kita anggap diam dan tidak bergerak sesungguhnya bergerak dalam perubahannya.

Bebaskan diri kita pada hal-hal positif. Ekspresikan diri kita pada jalur yang positif. Bergeraklah dengan semangat dan optimisme dalam ranah apapun itu. Tinggalkan semangat dan pikiranmu untuk mereka yang akan melanjutkan estafeta kehidupan lewat tulisan yang bermuatan energi positif. Sesungguhnya itu juga merupakan amal jariyah.

Tolak ukur ilmu yang bermanfaat adalah ketika ilmu itu mampu membimbing ke akhlak yang baik.

Koein News, 21 November 2017.

Andalan
Diposkan pada Edukasi

Antara Realita dan Imajinasi

No Maden
https://www.pexels.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Jika dalam perspektif ilmu otak (neuroscience), akibat yang ditimbulkan dari proses imajinasi dan realita adalah sama. Otak tidak membedakan respon yang terjadi dari proses imajinasi dan realita yang terjadi. Misalnya ketika seseorang menonton film. Film yang ditonton akan direspon otak seperti otak merespon kejadian sesungguhnya. Maka dari itu perlu selektif dalam menonton film, karena sangat berpengaruh terhadap pembentukan biologis otak seseorang.

Orang-orang Yahudi sudah dibiasakan melakukan imajinasi sejak kecil. Hal itu seperti dijelaskan dari buku yang saya baca yang berjudul “Rahasia Kecerdasan Orang-orang Yahudi”. Hal ini selain membiasakan anak-anak dikalangan Yahudi untuk melatih otaknya dan bermimpi atau menyusun mimpinya di masa depan, imajinasi juga merangsang otak untuk kreatif.

Imajinasi adalah salah satu mukjizat dari fungsi otak selain abstraksi. Dengan imajinasi, kita dapat memvisualisasikan impian kita sehingga dapat menimbulkan semangat. Imajinasi juga meransang kita untuk terbiasa berpikir diluar kebiasaan.

Berbeda dengan realita, ia adalah kejadian nyata –sesungguhnya- yang dialami seseorang pada waktu dan tempat tertentu. Sehingga secara biologi kejadian itu akan membentuk biologis otak seseorang. Kita dapat mengontrol realita yang akan terjadi dengan berhati-hati dalam berpikir. Karena berpikir adalah landasan dalam bersikap dan dalam jangka yang jauh dapat membentuk nasib seseorang.

Jika kita studi kasus langsung misalnya pada seseorang yang sudah melakukan hubungan seks pra nikah dan seseorang yang sering menonton film pornografi/pornoaksi, apakah yang terjadi pada otaknya? Ternyata berdasarkan penelitian para ahli, hal itu berdampak pada biologis otak seseorang dan ternyata keseringan seseorang menonton film pornografi atau biasa disebut narkolema (narkotika lewat mata) menimbulkan 6 kerusakan dibagian otak seperti seseorang yang mengalami kecelakaan berat yang menghantam kepalanya.

Selain itu hormon dan neurotransmitter di produksi secara berlebihan seperti dopamine yang diproduksi berlebihan akibat respon yang diberikan otak terhadap kebiasaan menonton film porno. Hal ini akan mengakibatkan kerusakan bagian otak yaitu prefrontal cortex yang sangat vital fungsinya bagi seorang manusia.

Pernah juga diadakan sebuah penelitian tentang kerusakan otak berkaitan dengan pornografi. Ada 4 penelitian yang coba dilakukan yaitu kondisi otak saat melakukan hubungan seks, ketika menonton video porno, kondisi hanya mendengar suara video porno, dan ketika diminta untuk membayangkan melakukan seks atau yang porno-porno. Ternyata hasilnya menunjukkan bahwa kerusakan terparah pada otak manusia yang diperintahkan membayangkan melakukan seks daripada melakukan hubungan seks. Kesimpulan ini bukan berarti melumrahkan berhubungan seks pra nikah loh yah!

Entry point yang ingin saya sampaikan bahwa otak seorang manusia akan merespon imajinasi (ide) dengan realita yang sebenarnya terjadi secara sama. Apapun yang masih ada dalam pikiranmu yang ingin kamu lakukan akan direspon otak seperti dalam keadaan nyata. Misalnya kamu lagi jengkel dan marah pada seseorang dan ingin memukulnya bahkan kamu sudah membayangkan bagaimana kamu memukulnya maka otak akan merespon seperti kamu melakukannya secara nyata. Maka hati-hatilah dalam berpikir. Berpikir yang positif dan bermanfaat saja jangan sampai pikiran berbalik menghancurkan diri kita sendiri.

Bukan hanya ucapan dan perilaku yang harus dijaga tapi pikiran juga perlu!

Qureta, 1 Juli 2017.

Diposkan pada Edukasi, Inspiratif

Mengukir Sejarah Diri

workspace-2985783_960_720
https://www.pixabay.com

Oleh: Fiqram Iqra Pradana

Siapapun itu pasti ingin untuk dikenang. Tapi yang paling diingini oleh setiap orang adalah dikenang dalam hal kebaikan dan prestasi.

Namun sebagai manusia yang memiliki kehendak untuk memilih sendiri pilihannya dalam menjalani hidup ini, tentu hal ini bukan perkara mudah. Karena berbagai godaan yang melenakan dan malah melemahkan terlalu sering menipu untuk tidak fokus mencapai tujuan.

Siapapun itu jika ingin dikenang maka berusahalah berkarya dalam hal apapun itu. Apalagi karya yang diciptakan dapat bertahan lama seperti ide dan gagasan yang dimuat dalam sebuah tulisan.

Mungkin benarlah nasihat bijak yang menyatakan bahwa, “Jika Anda ingin mengenal dunia maka membacalah tapi jika Anda ingin dikenal dunia maka menulislah” karena sehebat apapun prestasi dan perjalanan hidup seseorang jika tidak dituliskan maka akan terlupakan.

Namun karya yang sesungguhnya bukanlah karya yang membuat seseorang hanya menjadi terkenal tapi karya yang memberikan banyak manfaat terutama yang menginspirasi orang lain untuk berbuat baik dan produktif.

Seseorang yang berkarya yang dibarengi dengan niat baik hanya untuk memperoleh ridho-Nya, sesungguhnya bukan saja berkarya dan mengukir sejarah dirinya didunia tapi juga berkarya untuk akhiratnya kelak.

“Berkaryalah yang baik-baik karena yang baik akan kembali dengan cara yang baik”.